LAMONGAN – Suara deru mesin pompa air terdengar bersahutan di sepanjang bantaran sungai di wilayah Lamongan. Bagi masyarakat di kawasan Bengawan Jero, bunyi ini adalah "musik" harapan di tengah kepungan air yang seolah tak kunjung lelah menggenangi pemukiman dan mata pencaharian mereka. Tahun 2026 kembali menguji ketangguhan warga di wilayah yang secara geografis memang berada di titik rendah ini.
Status “Siaga Merah” yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan bukan sekadar istilah administratif. Ia adalah potret nyata dari ribuan kepala keluarga yang kini harus beradaptasi dengan genangan, serta para pemangku kebijakan yang tengah berkejaran dengan waktu demi menekan kerugian yang lebih dalam.
Panggung Bencana: 44 Desa dalam Kepungan Air
Banjir yang melanda kawasan Bengawan Jero kali ini bukanlah peristiwa singkat yang lewat begitu saja. Berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan hingga pertengahan Januari 2026, luapan air telah merendam sedikitnya 44 desa yang tersebar di lima kecamatan utama: Kalitengah, Glagah, Turi, Deket, dan Karangbinangun.
Laporan dari iNews Lamongan menggambarkan situasi yang memprihatinkan. Sedikitnya 17.623 jiwa terdampak langsung oleh bencana ini. Di beberapa titik, ketinggian air yang masuk ke pemukiman warga berkisar antara 20 hingga 60 sentimeter. Dampaknya sangat masif; mobilitas warga lumpuh, dan akses ekonomi di pasar-pasar tradisional terganggu akibat tergenangnya jalan-jalan poros desa.
Pendidikan di Tengah Genangan: Sepatu yang Dilepas dan Asa yang Tetap Tegak
Salah satu potret yang paling menyita perhatian adalah sektor pendidikan. Banjir tidak memilih sasaran; sekolah-sekolah di kawasan terdampak tak luput dari rendaman. Di Desa Moropelang, Kecamatan Babat, para siswa harus berjuang lebih keras untuk sekadar sampai ke ruang kelas.
Dilansir dari Suara Nasional, anak-anak sekolah di wilayah tersebut terpaksa melepas sepatu dan menjinjingnya saat menembus genangan air yang mencapai betis orang dewasa. Meski infrastruktur sekolah tergenang, semangat belajar tidak surut. Namun, secara psikologis dan teknis, proses belajar mengajar tentu tidak seoptimal dalam kondisi normal. Pemkab Lamongan melalui instansi terkait kini tengah berupaya memastikan bahwa layanan pendidikan tetap berjalan, baik melalui relokasi sementara kelas maupun penyesuaian jam belajar guna menjaga keselamatan siswa.
Ancaman Krisis Pangan: Tambak dan Sawah yang Menjelma Lautan
Bagi Lamongan, yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur, banjir Bengawan Jero adalah ancaman langsung terhadap ketahanan pangan daerah. Data dari Radar Lamongan menunjukkan angka yang mencengangkan: sekitar 31.000 hektare lahan tambak dan sawah terendam air.
Para petambak ikan bandeng dan udang terpaksa melakukan "panen dini" sebelum ikan-ikan mereka hanyut terbawa arus luapan. Panen dini ini adalah langkah darurat untuk menyelamatkan modal, meski hasilnya jauh dari kata ideal. Harga jual ikan yang belum mencapai ukuran maksimal tentu merosot tajam di pasaran. Jika genangan ini berlangsung lebih dari dua pekan, potensi gagal panen total (puso) membayangi ribuan petani dan petambak, yang pada gilirannya dapat memicu lonjakan harga pangan di tingkat regional.
Perang Melawan Air: Strategi Pompa dan Tanggul Darurat
Menghadapi kondisi kritis ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan bergerak cepat. Langkah taktis yang diambil adalah optimalisasi pembuangan air ke arah laut melalui sungai-sungai utama. Penjabat Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah mempercepat surutnya genangan.
"Fokus kami tidak hanya pada menurunkan tinggi muka air, tetapi juga mengurangi durasi lamanya genangan agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal," ujar Dirham sebagaimana dikutip dari ANTARA News Jawa Timur.
Sebanyak 15 unit pompa air mobile telah dikerahkan secara maksimal di titik-titik krusial, seperti di Kali Corong, Kali Wangen, Kali Tebaloan, dan Kali Bendungan. Pompa-pompa ini bekerja 24 jam untuk memindahkan volume air dari pemukiman ke saluran pembuangan akhir.
Tak hanya pemerintah daerah, sinergi juga datang dari unsur TNI. Personel Koramil 0812/10 Babat bersama warga bergerak bahu-membahu memperbaiki tanggul Kali Patih yang sempat jebol. Menggunakan material padel dan karung pasir, perbaikan darurat ini dilakukan untuk menahan laju air agar tidak semakin meluas ke pemukiman di wilayah Babat. Laporan dari Orbit Nasional menyebutkan bahwa kolaborasi ini berhasil menekan risiko banjir susulan yang lebih parah di wilayah tersebut.
Mengapa Bengawan Jero Selalu Banjir? Sebuah Analisis Geografis
Untuk memahami mengapa wilayah ini menjadi langganan banjir, kita perlu melihat perspektif ilmiah. Berdasarkan kajian dalam E-Jurnal UNISDA, kawasan Bengawan Jero secara topografis menyerupai sebuah "mangkuk raksasa". Wilayah ini merupakan dataran rendah dengan tekstur tanah halus yang memiliki daya serap air rendah.
Ketika intensitas hujan tinggi terjadi di wilayah hulu, air mengalir ke Bengawan Jero. Namun, karena posisi permukaannya yang sangat rendah—bahkan di beberapa titik berada di bawah permukaan air laut saat pasang—air tidak bisa mengalir secara alami (gravitasi) ke laut. Inilah yang menyebabkan genangan bertahan dalam waktu yang lama, terkadang hingga berbulan-bulan.
Selain faktor topografi, fenomena perubahan iklim global turut memperburuk keadaan. Data dari GoodStats Data menyebutkan bahwa Jawa Timur, bersama Jawa Barat dan Jawa Tengah, menjadi provinsi dengan frekuensi kejadian banjir tertinggi di awal tahun 2025 dan 2026. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur juga mencatat adanya anomali cuaca ekstrem akibat dinamika atmosfer yang memicu curah hujan di atas rata-rata normal.
Solusi Jangka Panjang dan Harapan Masyarakat
Menangani Bengawan Jero tidak bisa dilakukan dengan langkah tambal sulam. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memasukkan penanganan banjir kawasan ini dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045. Visi besarnya adalah penguatan infrastruktur makro, termasuk normalisasi sungai secara menyeluruh dan pembangunan pintu air yang lebih modern.
Laporan kajian kerentanan iklim dari USAID APIK menekankan pentingnya adaptasi berbasis komunitas. Masyarakat tidak hanya butuh pompa, tapi juga sistem peringatan dini yang lebih akurat serta pola tanam yang adaptif terhadap bencana hidrometeorologi.
Bagi warga seperti Abdul Muntholib di Desa Moropelang, harapan mereka sederhana namun mendalam. "Kami sudah terbiasa dengan air, tapi kami ingin ada kepastian bahwa setiap tahunnya genangan ini bisa lebih cepat surut agar anak-anak kami bisa sekolah dengan tenang," ungkapnya.
Distribusi logistik berupa 14,5 ton beras yang telah disalurkan Pemkab Lamongan memang meringankan beban sesaat. Namun, penyelesaian permanen pada sistem drainase regional adalah kunci utama agar Lamongan benar-benar bisa "merdeka" dari kepungan banjir Bengawan Jero.(2)



No comments:
Post a Comment